Sabtu, 29 September 2012

Pintar dengan Pazel


          Teman-teman, kita pasti sudah pernah mendengar bahkan memainkan sebuah permainan di masa kecil yang bernama pazel. Di bangku taman kanak-kanak, kita sering menjumpai pembelajaran dengan media pazel. Ternyata pazel bisa membuat kita pintar. Pazel adalah mainan berupa gambar yang terbagi dalam potongan-potongan. Pazel biasanya tersedia dalam beraneka ragam bentuk, bahan dan ukuran. Di lihat dari tingkatannya, pazel juga tersedia dalam tingkatan yang mudah hingga tingkatan yang sulit. Gambarnya pun bermacam-macam, ada yang bergambar kartun, pemandangan, bunga, robot, binatang dan masih banyak gambar-gambar yang lainnya.
            Pazel bisa membuat kita menjadi pintar karena saat bermain pazel, kita di minta untuk menyelesaikan permaslahan. Permasalahan dalam hal ini adalah memasang potongan gambar hingga menjadi sebuah gambar yang utuh. Contohnya pazel bergambar pohon. Pohon terdiri dari akar, daun,ranting, batang, bunga, dan buah. Agar menjadi gambar yang sempurna kita harus menyatukan bagian-bagian kecil tersebut.
Dalam merangkai potongan-potongan pazel tersebut kita membutuhkan konsentrasi untuk bisa menyatukan atau memasang-masangkan potongan pazel yang sesuai. Dengan berulang kali kita mencoba memainkan gambar pada pazel, kita akan semakin pintar menyelesaikan sebuah masalah, karena otak kita bekerja dengan berfikir untuk menjadikan sebuah ptongan-potongan gambar menjadi gambar yang utuh dan sempurna. Jadi tidak ada salahnya kita mencoba, permainan pazel tidak memandang umur dan tidak hanya untuk anak yang duduk di bangku taman kanak-kanak saja.

Sumber : Kompas Anak
Pradhita Arnum W
11201244008

Menjadi Penyimak Tepat Guna dengan Bahan Simakan yang Menarik


          Manusia membutuhkan informasi berupa rangsangan dari lingkungan luar sekitar untuk dapat menjalani hidupnya dengan baik. Agar rangsangan yang berasal dari luar tubuh dapat ditangkap dibutuhkan kemampuan tertentu yang bernama indera. Setiap orang normalnya memiliki lima panca indera yang berfungsi dengan baik untuk menangkap rangsangan sehingga dapat memberikan respon sesuai dengan keinginan atau sesuai dengan insting kita. Panca indera itu ialah indera pengelihat, indera pencium, indera peraba, indera perasa atau pengecap dan juga indera pendengar.
         Dari masing-masing indera ini di butuhkan alat-alat tubuh tertentu yang disebut sebagai alat indra guna menangkap berbagai rangsangan dari luar tubuh . Adapun  alat indera tersebut ialah mata, hidung, kulit, lidah dan telinga. Sekilas mungkin kita dapat menyebutkan fungsi dari beberapa alat indra yang dimiliki manusia misalnya mata untuk melihat, hidung untuk mencium aroma, kulit untuk meraba, lidah untuk merasa dan telinga untuk mendengar. Tapi lebih dari itu ada fungsi-fungsi lain yang sebenarnya merupakan fungsi vital dari masing-masing alat indra tersebut untuk menangkap rangsang dan memahaminya, misalnya adalah telinga manusia sebagai alat indra pendengaran.
     Dalam kehidupan ini banyak manusia yang menggunakan telinganya hanya sampai tingkat mendengar saja, tetapi belum pada sampai taraf menyimak. Dalam proses interaksi dan komunikasi diperlukan keterampilan berbahasa aktif, kreatif, produktif dan resetif apresiatif yang mana salah satu unsurnya adalah keterampilan menyimak. Menyimak merupakan suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
Jika diperinci, minimal ada empat peran menyimak dalam kehidupan, yaitu sebagai landasan belajar bahasa, penunjang keterampilan berbicara, membaca dan menulis, pelancar komunikasi, dan penambah informasi. Apabila dibandingkan dengan aktivitas berbahasa  yang lain, aktivitas menyimak selalu melebihi kegiatan berbicara, membaca, dan menulis (hasil penelitian Paul T. Rankin: menyimak: 42%; berbicara: 25%; membaca: 15%; menulis: 11% ). Hal itu menunjukkan bahwa menyimak mempunyai peran yang penting. Untuk itu peranan keterampilan menyimak siapa saja sebagai suatu hal mendesak yang harus dilaksanakan namun pada kenyataannya masih banyak orang yang melakukan kegiatan menyimak namun tujuan yang di inginkan belum dapat tercapai. Hal ini di karenakan adanya beberapa faktor    misalnya sering mengungkapkan penolakan secara gegabah terhadap sesuatu objek sebagian tidak menarik perhatian, kendala lain adalah faktor psikologi, yakni seseorang selalu berprasangka dan kurang simpati terhadap pembicara, keegosentrian serta masalah-masalah pribadi yang muncul ketika menyimak. Selain itu karena adanya kebingungan semantik, Makna suatu kata tergantung kepada individu yang memakainya dalam situasi tertentu dan waktu yang tertentu juga. Kalau seorang penyimak yang tidak memahami hal ini, maka dia akan kebingungan dalam mengartikan kata-kata yang dipakai oleh sang pembicara. Kebingungan semantik ini jelas merupakan kendala serius bagi seorang penyimak. Bagaimana mungkin seseorang menyimak dengan baik, dapat menangkap, menyerap, memahami, apalagi menguasai isi ujaran, kalau dia tidak memahami makna kata-kata atau wacana yang dipergunakan oleh sang pembicara. Seseorang yang ingin menjadi penyimak yang efektif harus mempunyai kosa kata yang memadai.
         Selain menjadi penyimak yang baik, seorang penyimak hendaknya juga menjadi penyimak yang tepat guna. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan agar dapat menjadi penyimak yang tepat guna. Upaya yang pertama adalah kembangkanlah suatu kemauan atau kesudian menyimak. Tanpa adanya kemauan, suatu pekerjaan tidak akan berhasil dengan hasil yang memuaskan. Begitu juga halnya dengan kegiatan menyimak, tanpa adanya kemauan tidak akan bisa memetik manfaat pembicaraan atau ujaran seseorang. Untuk menjadi penyimak yang baik dan tepat guna, perlu mengembangkan kemauan dan kesudian menyimak, bukan menganggapnya sebagai suatu paksaan. Upaya yang kedua adalah menyimaklah lebih lama. Apabila kita akan melakukan kegiatan menyimak, hendaknya kita menyimak dari awal sampai akhir dengan suatu keikhlasan, sebab dari dalamnya dapat kita temukan beberapa ide yang berharga. Semakin lama kita menyimak maka semakin meningkat pula perkembangan kita menjadi penyimak yang baik dan tepat guna. ( Tarigan,1987:78 )
         Upaya yang ketiga dengan menyimak lebih sering. Selain ditentukan oleh lamanya menyimak, keberhasilan menyimak juga ditentukan oleh kekerapan dan keseringannya. Semakin sering kita menyimak maka semakin bertambah juga pengetahuan kita, serta cakrawala pandangan kita pun bertambah luas. Upaya yang keempat adalah menyimak dengan penuh respek. Adanya kemauan untuk menyimak suatu ujaran, berarti adanya keyakinan bahwa  pembicara mempunyai kelebihan dalam topik tersebut. Selain itu juga adanya kepercayaan bahwa kita dapat belajar dan mendapatkan manfaat dari pembicara tersebut. Jika sikap tersebut diterapkan dalam kegiatan menyimak, maka sudah menunjukkan bahwa kita menyimak dengan penuh respek dan rasa hormat. Upaya yang kelima adalah menyimak dengan umpan balik. Setelah mendengarkan pembicaraan dari pembicara, kita akan mempersiapkan beberapa pertanyaan agar mendapat jawaban dari pembicara. Maka terjadilah suatu diskusi untuk mencari pemecahan suatu masalah. Kegiatan yang seperti itulah yang disebut umpan balik, sehingga dapat meningkatkan semangat penyimak. Upaya yang keenam adalah menyimak tanpa penilaian atau keputusan yang prematur. Adakalanya sebelum kegiatan menyimak berlangsung, penyimak terlebih dahulu menilai atau membuat keputusan terhadap pembicara beserta materi yang dikemukakan. Sebenarnya penilaian sebaiknya dilakukan setelah menyimak baik-baik seluruh ujaran pembicara. Upaya yang ketujuh adalah menyimak dengan tenang dan tenggang hati. Dalam kegiatan menyimak sangat dituntut ketenangan dan tenggang hati para penyimak. Apabila kegiatan menyimak dilakukan dengan gelisah, tidak tenang dan penuh prasangka maka akan mengganggu konsentrasi penyimak sehingga penyimak tidak dapat menangkap isi dan memahami materi pembicara. ( Tarigan,1987:78 )
               Upaya yang kedelapan adalah menyimak secara analisis. Sebagai seorang penyimak, kita perlu menganalisis butir-butir tertentu dari materi pembicara. Setelah dianalisis tentu penyimak akan mendapatkan gambaran secara menyeluruh dan utuh. Kemudian penyimak dapat menarik kesimpulan dari ujaran pembicara. Upaya selanjutnya adalah menyimak tanpa keadaan membela diri. Penyimak dengan tipe seperti ini biasanya sibuk dengan tanya jawab dalam hatinya, sehingga mengganggu konsentrasi. Penyimak juga tidak dapat memahami dengan baik materi dari pembicara. Penyimak yang seperti ini biasanya bukan menyimak dengan telinga tetapi dengan mata dan kata hatinya. Upaya berikutnya adalah menyimak dengan prasangka dan stereotip yang minim. Penyimak yang baik dan tepat guna hendaknya dapat melatih dirinya untuk menyimak setiap ujaran dengan prasangka dan stereotip yang minim. Memang prasangka tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dikurangi dan ditekan sehingga menjadi minim, sekecil dan sesedikit mungkin. Upaya yang terakhir dengan menyimak tanda-tanda nonverbal dan mencari hal-hal yang tidak konsekuen. Tanda-tanda nonverbal dapat berupa gaya, gerak-gerik, mimik, dan ekspresi wajah pembicara pada saat menyampaikan materi. Tanda-tanda tersebut dapat membantu penyimak memahami materi yang disampaikan oleh pembicara. Selain itu, sering terdapat aneka ketidak konsekuenan pembicara baik sadar maupun tidak. Penyimak harus dapat mencari hal-hal tersebut. (Tarigan,1987:78)
               Untuk menjadi penyimak yang baik dan tepat guna tentu tidaklah mudah. Materi yang akan disampaikan oleh pembicara juga berpengaruh terhadap kemauan seseorang untuk melakukan kegiatan menyimak. Tanpa adanya kemauan, kegiatan menyimak tidak dapat dilakukan. Untuk itu dalam memilih bahan simakan perlu memperhatikan beberapa hal. Bahan simakan tersebut haruslah dapat menarik perhatian penyimak. Contohnya adalah bahan simakan dengan tema yang up-to date, seperti topik permasalahan yang masih menjadi buah pembicaraan dalam masyarakat. Tentu pembicaraan tersebut akan menarik perhatian karena banyak orang yang ingin tahu tentang masalah tersebut serta cara pemecahan atau penyelesaiannya. Selain itu bahan simakan dengan tema yang terarah dan sederhana juga dapat menarik perhatian penyimak, karena tema yang terlalu luas tidak akan terjangkau oleh penyimak. Sedangkan bahan simakan yang rumit dan sukar biasanya akan membuat penyimak bosan dan binggung. Bahan simakan yang sederhana bukan berarti jelek dan tidak berguna, tetapi merupakan bahan simakan yang mudah dipahami dan terjangkau oleh seluruh kalangan masyarakat. Banyak tema bahan simakan yang menarik, diantaranya tema yang dapat menambah pengalaman dan pemahaman, tema yang bersifat sugestif dan evaluative, serta tema yang dapat memotivasi. Dengan rasa ketertarikan penyimak terhadap bahan simakan, akan membuat penyimak menjadi lebih semangat dalam menyimak dan berkonsentrasi untuk dapat mengambil manfaat dari apa yang ia simak. (Tarigan,1987:190)






Sumber :
Tarigan, Henry Guntur.1987.Menyimak Sebagai Salah Satu Ketrampilan Berbahasa.Bandung:Angkasa


Oleh : Auliya Muftiningsih ( 11201244006 )

Pancasila, Alat Pemersatu Bangsa?


             Pancasila merupakan sebuah kata yang sudah sering orang dengar, khususnya bagi warga Indonesia. Sering juga orang mengucapkan kata ‘pancasila’. Namun kebanyakan dari mereka tak mengerti hakekat pancasila itu sendiri. Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Panca yang berarti lima dan sila yang berarti prinsip atau asas. Jadi pancasila berisikan lima prinsip bangsa Indonesia. Dikalangan pelajar memang masih banyak yang hafal isi pancasila, tetapi berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa, ada beberapa diantara mereka yang tidak hafal isi pancasila. Hal tersebut dapat dikarenakan dibangku sekolah masih rutin diadakan upacara pada hari Senin yang selalu dibacakan pancasila dan biasanya ditirukan oleh seluruh peserta upacara, sedangkan dibangku perkuliahan sudah tidak diadakan upacara lagi. Isi pancasila adalah ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan berada, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
          Penjabaran kelima asas dalam Pancasila menjadi 36 butir pengamalan sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan pancasila. Ternyata cukup banyak juga mahasiswa yang tidak mengerti tentang butir-butir tersebut. Pelajaran pancasila yang kini mulai dihapuskan dalam pelajaran ditingkat sekolah pun membuat warga Indonesia khususnya generasi penerus bangsa semakin tidak mengerti akan makna dan tujuan Pancasila. Pemahaman warga Indonesia terhadap nilai-nilai Pancasila juga semakin luntur. Apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras, adat istiadat, bahasa daerah, dan kelompok. Perbedaan tersebut merupakan suatu keberagaman yang tidak dapat dipersamakan. Dengan lunturnya pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila, akibatnya banyak terjadi pertentangan, permusuhan, tawuran, baik antar suku, agama, ras maupun kelompok. Keberagaman tersebut tidak dapat dipersatukan tanpa adanya alat pengikat. Alat pengikat itu adalah cita-cita, pandangan hidup yang diyakini dan dipercaya sebagai sesuatu yang mulia dan luhur, ialah Pancasila. Selain merupakan ideologi dasar bangsa Indonesia, Pancasila juga dapat dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa. Karena Pancasila merupakan pandangan hidup dan cita-cita bangsa Indonesia. Pancasila memang harus diperkenalkan dan diajarkan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia, baik melalui pendidikan formal maupun non formal. Untuk itu diperlukan kesungguhan dari seluruh komponen bangsa Indonesia agar mampu dan mau memberikan tauladan kepada generasi muda saat ini. Pengamalannya pun harus dimulai dari hal-hal yang kecil dan dari diri sendiri.



Oleh : Auliya Muftiningsih ( 11201244006 )

Jumat, 28 September 2012

KARENA BAHASA INDONESIA


Salah satu kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional. Kedudukan ini dimiliki sejak dicetuskannya sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dapat dilihat dari digunakannya bahasa Indonesia di berbagai media komunikasi. Misalnya buku, koran, acara televisi, siaran radio, dan lain-lain. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga digunakan sebagai alat pemersatu bangsa yang berbeda suku, agama, ras, adat istiadat, dan budaya. Dengan adanya bahasa Indonesia kita dapat menggunakannya sebagai alat komunikasi untuk berinteraksi dengan masyarakat di daerah lain. Hal ini mempermudah penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar belakang bahasa dan budaya masing-masing ke dalam NKRI. Bahasa daerah diharapkan dapat memperkaya khazanah bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia dipakai pula dalam upacara dan kegiatan yang lainya baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Di dunia pendidikan mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi di seluruh Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Bahasa Indonesia merupakan bahasa universal yang lebih mudah untuk dipahami dan diterima oleh kebanyakan orang. Di luar negeri, bahasa Indonesia banyak dipelajari alasannya karena bahasa Indonesia merupakan bahasa universal dan struktur kebahasaannya yang mudah untuk dipahami. Sedangkan di dalam negeri sendiri, bahasa Indonesia terkadang kalah bersaing dengan bahasa-bahasa asing atau bahkan dengan bahasa gaul yang digunakan oleh para remaja. Bahasa Indonesia merupakan lambang bangsa Indonesia, berarti bahasa Indonesia dapat mengetahui identitas seseorang. Kita harus bangga terhadap bahasa Indonesia, menggunakannya tanpa ada rasa malu dan rendah diri. Kita wajib menjaganya jangan sampai tidak menunjukkan gambaran bangsa Indonesia yang sebenarnya.

Yulita Noor Dwi Astuti
11201244010

Rumitnya Kapitalisme Ekonomi



Tahukah kamu tentang kapitalisme ekonomi?
Kapitalisme ekonomi merupakan suatu sistem ekonomi yang mengatur proses produksi dan pendistribusian barang dan jasa. Fakta menunjukkan bahwa kapitalisme pasar bebas hanya menguntungkan orang-orang dan negara-negara kaya di Eropa dan Amerika Serikat. Pada kapitalisme ekonomi, pasar bebas cenderung menguntungkan negara maju dan negara yang mampu memproduksi lebih efisien.
Cara kerja pada kapitalisme pasar bebas dapat diilustrasikan dengan seorang pengusaha mendirikan usaha yang memproduksi suatu produk membutuhkan biaya untuk upah tenaga kerja, sewa pabrik, biaya listrik dan pembelian barang mentah. Maka untuk membayar semua kebutuhan tersebut sekaligus mendapatkan laba, ia harus menjual produk lebih tinggi dari pada total biaya produksinya. Walau begitu, ia tidak dapat menjual produk dengan harga terlalu mahal karena ia memiliki saingan yang menjual jenis produk yang sama. Untuk dapat bersaing, pengusaha harus berusaha untuk menekan biaya produksi. Penggunaan mesin modern dalam proses produksi akan membantu penekanan biaya produksi karena dengan mesin yang canggih, perusahaan dapat mengurangi tenaga kerja. Oleh karena itu, dalam kapitalisme pasar bebas dapat dikatakan bahwa persaingan menekan harga.
Dampak positif dari globalisasi ekonomi kapitalisme adalah meningkatkan produksi global, meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara, memperluas pasar untuk produk dalam negeri, memperoleh modal lebih banyak dan teknologi yang lebih baik dan dapat membantu penyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi. Kendati begitu, muncul dampak negatif yang ditimbulkan oleh globalisasi ekonomi kapitalisme yaitu menghambat pertumbuhan sektor industri, memperburuk neraca pembayaran, sektor keuangan semakin tidak stabil, memperburuk proses pertumbuhan ekonomi jangka panjang, pemerintah hanya sebagai regulasi dalam pengaturan ekonomi yang mekanismenya ditentukan oleh pasar, sektor-sektor ekonomi rakyat yang diberikan subsidi semakin berkurang dan koperasi semakin sulit berkembang. Lalu, bagaimana pendapatmu tentang kapitalisme ekonomi?

Referensi:
Budiyanto. 2005. Kewarganegaraan SMA Untuk Kelas XII. Jakarta: Erlangga.

       Alyasinta Mulya W.
       11201241061